Sabang, Aceh – Muwafiqus Shobri, M.Pd.I, Dosen Institut Agama Islam (IAI) Hasan Jufri Bawean, turut mengharumkan nama institusinya dengan menjadi salah satu presenter dalam Konferensi dan PkM Internasional 3 Negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) yang digelar secara Hybrid di Pulau Weh, Sabang, Aceh, pada 23–24 Juli 2025.
Konferensi bergengsi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) ini mengusung tajuk “International Conference of Education, Religion, Social Humanities, Health, Science and Technology”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Sabang, serta dibuka secara resmi oleh Wali Kota Sabang, H. Zulkifli H. Adam.
Ketua Asosiasi DKLPT sekaligus Conference Chair, Nanda Saputra, M.Pd, menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi wadah akademik penting bagi para dosen lintas negara untuk berbagi gagasan, penelitian, dan solusi terhadap berbagai isu kontemporer dalam bidang pendidikan, agama, sosial, dan teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, Muwafiqus Shobri, M.Pd.I mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Pendidikan Karakter Global-Religius: Integrasi Nilai Multikultural dan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”. Ia menyoroti pentingnya pendidikan karakter berbasis Islam sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang tidak hanya beriman dan berilmu, tetapi juga berintegritas dan responsif terhadap tantangan global.
“Pendidikan karakter yang kami maksud tidak sekadar menanamkan nilai-nilai spiritual, tetapi juga membentuk kesadaran sosial dan tanggung jawab global,” ungkap Muwafiqus dalam pemaparannya. Ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam seperti rahmah (kasih sayang), ta‘aruf (saling mengenal), dan tasamuh (toleransi) menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat multikultural yang harmonis.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa moderasi dalam Islam (wasatiyyah) merupakan pendekatan kunci dalam membentuk generasi yang inklusif, mampu menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas. “Dengan meneladani sifat Nabi Muhammad SAW seperti shidiq, amanah, tabligh, dan fatonah, kita dapat mencetak insan berkarakter global yang kuat secara moral dan adaptif dalam menghadapi dinamika zaman,” ujarnya.

Senada dengan gagasannya dalam sesi konferensi, Muwafiqus Shobri, M.Pd.I kembali tampil sebagai narasumber dalam sesi Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional yang menjadi rangkaian kegiatan Konferensi Internasional 3 Negara di Pulau Weh, Sabang, Aceh.
Dalam forum tersebut, dosen Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean ini memaparkan materi bertajuk “Moderasi Beragama dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Pendidikan Islam: Upaya Penguatan Nilai Toleransi melalui Pengabdian kepada Masyarakat Internasional.” Materi ini menjadi penegasan atas peran strategis pendidikan Islam dalam membumikan nilai-nilai moderasi di tengah masyarakat multikultural global.
“Moderasi beragama (wasathiyah al-Islamiyah) adalah jawaban atas berbagai tantangan zaman yang mengarah pada ekstremisme dan intoleransi,” ujar Muwafiqus di hadapan peserta. Ia menjelaskan bahwa prinsip ini mencakup keseimbangan (tawazun), keadilan (‘adl), toleransi (tasamuh), dan musyawarah (shura) sebagai fondasi kehidupan sosial-keagamaan yang damai.
Ia merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 143 yang menyebut umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (umat pertengahan), yang tidak berpihak pada ekstremisme kanan maupun kiri. Muwafiqus juga menyinggung peringatan Nabi Muhammad SAW terhadap sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama, sebagaimana sabda beliau: “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan ghuluw mereka dalam agama.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa nilai-nilai moderasi sebenarnya melekat erat dalam ajaran Islam, namun dalam praktiknya sering terpinggirkan akibat kurangnya pemahaman dan tekanan lingkungan sosial-politik.
“Di sinilah peran penting pendidikan Islam dan lembaga keagamaan. Melalui pendekatan pendidikan dan pengabdian, nilai-nilai moderasi harus ditanamkan sebagai sikap hidup, bukan sekadar wacana,” imbuhnya. Menurutnya, majelis ta’lim, pesantren, madrasah, dan institusi pendidikan tinggi Islam perlu menjadi motor penggerak dalam mentransformasikan ajaran Islam yang penuh kasih, adil, dan toleran ke dalam kehidupan sosial masyarakat internasional.

Konferensi dan PkM ini turut dihadiri oleh puluhan akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Keterlibatan Muwafiqus Shobri dalam dua sesi—konferensi ilmiah dan pengabdian masyarakat internasional—mencerminkan kiprah aktif akademisi daerah dalam menyuarakan pesan-pesan Islam yang moderat dan relevan secara global. Hal ini sekaligus memperkuat peran IAI Hasan Jufri Bawean dalam jaringan keilmuan dan pengabdian lintas negara. (Adm)
